Google Analitic

Senin, 24 Juli 2017

Kisah Kaos Sawoong, Entrepreneur Asli Surabaya yang Fokus Dengan Heritage Surabaya

gambar : www.enciety.co

Kisah kali ini, diambil dari sebuah artikel di Jawa Pos. Bagi yang ingin menggeluti bisnis jualan kaos, bisa meneladani kisah Kaos Sawoong berikut ini.

...

Jalan yang dilalui Kuncar dalam merintis Sawoong tidak mulus. Dibutuhkan dua tahun agar kaus kreatif itu dikenal khalayak.

Pada awal-awal produksi, Kuncar sempat menjual kaus dagangannya di bawah harga pasar lantaran banyak yang tidak terjual. Memang, Kuncar merintis Sawoong dengan modal Rp 5 juta untuk membuat seratus kaus.

Kaus-kaus tersebut dijual saat pameran. Dibutuhkan 2–3 pameran agar kaus yang dibeli secara borongan itu ludes. Namun, pameran tersebut pula menjadi jalan alumnus Sosiologi, Unair, itu memperoleh pesanan dalam partai yang besar.


KENYANG DIUSIR DAN DITIPU


”Saat pameran pertama pun, saya mengutang dulu buat bayar stannya. Saya bayar kalau sudah ada yang beli kaus,” ungkapnya.

Sawoong mulai dikenal secara luas ketika digandeng House of Samperna (HoS) pada 2009. Ketika itu Manajer HoS Inna Silas tertarik untuk menampilkan Sawoong di HoS setelah melihat karya Kuncar di salah satu pameran.

Awalnya, Kuncar hanya bekerja sama dengan konfeksi dan tukang sablon untuk memproduksi Sawoong. Pada 2010, Kuncar membeli mesin jahit serta menyewa garasi untuk tempat produksi senilai Rp 11 juta.

Meski disewa selama dua tahun, baru sembilan bulan berjalan dia diusir pemilik rumah karena tidak rela garasi rumahnya dipakai orang lain. ”Saya menyewa kepada adiknya karena pemilik rumah berada di luar kota,” jelas Kuncar. ”Saya diusir tanpa pengembalian uang,” imbuhnya.

Tak hanya diusir, Kuncar juga pernah ditipu pemesan kausnya. Kerugian akibat penipuan itu mencapai Rp 200 juta.

RISET PERSEBAYA, GANDENG KITLV LEIDEN




Ekonomi kreatif menjadi bidang yang paling menarik minat generasi muda untuk menjadi wirausahawan. Salah satunya adalah Kuncarsono Prasetyo yang terjun ke industri kreatif melalui Lodji Besar Holding Creative pada 2016.

LODJI Besar Holding Creative merupakan perusahaan payung yang mewadahi lima jenis usaha. Yakni, kaus kreatif Sawoong, creative consultant Ide Anyar, konfeksi Republik Kaos, aplikasi Bikinkan, dan kafe Lodji Besar Food. Lodji Besar diambil dari nama rumah yang disulap menjadi kantor di Jalan Makam Peneleh, Surabaya.

LODJI Besar Holding Creative merupakan perusahaan payung yang mewadahi lima jenis usaha. Yakni, kaus kreatif Sawoong, creative consultant Ide Anyar, konfeksi Republik Kaos, aplikasi Bikinkan, dan kafe Lodji Besar Food. Lodji Besar diambil dari nama rumah yang disulap menjadi kantor di Jalan Makam Peneleh, Surabaya.

Kaus oleh-oleh Sawoong adalah bisnis pertama Kuncar. Dirintis pada 2008, Sawoong diambil dari nama tokoh legendaris Surabaya, Sawunggaling. Sesuai dengan legenda Sawunggaling, ayam jago menjadi logo Sawoong. ”Di rumah-rumah zaman dulu, ayam digunakan untuk menunjukkan kelas pemilik rumah. Kalau ada (patung, Red) ayam (jago) di atap rumah, itu berarti pemiliknya berasal dari kalangan menengah ke atas,” ujar bapak dua anak tersebut.

Nah, segmen menengah ke atas itulah yang menjadi target pasar kaus oleholeh Sawoong. Sesuai pasarnya, Sawoong hanya dijual secara offline di House of Sampoerna, Lodji Besar, serta gerai di pusat perbelanjaan City of Tomorrow.

Karena membidik segmen wisatawan, desain yang ditampilkan menonjolkan budaya Surabaya tempo doeloe. Mantan wartawan itu mengakui, ide mengangkat cagar budaya Surabaya tercetus saat meliput pembongkaran Stasiun Semut.

Kuncar juga tak setengah-setengah mempelajari budaya Surabaya. Bahkan, dia mempelajari detail perbedaan font tulisan, gambar, dan cara penulisan sebuah kata sesuai era masing-masing. ”Pada 2010, saya mendapatkan kritik dari desainer Prancis karena belum paham jika setiap gambar maupun font memiliki ciri khas berbeda sesuai eranya,” terang suami Rr Sukma Dewi Damayanti itu. Kuncar juga pernah diprotes penggemar Persebaya lantaran membuat desain logo Persebaya 1927. Padahal, Kuncar telah melakukan riset logo Persebaya pada masa penjajahan Belanda dengan menggandeng The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies (KITLV) Leiden. Setelah brand Sawoong mulai dikenal masyarakat, pada 2011 Kuncar berekspansi ke bisnis konfeksi dengan menerima pesanan kaus, kemeja, maupun jaket. Dengan produksi ratarata 100 ribu pieces per bulan, bisnis yang dinamai Republik Kaos itu kini menjadi penopang utama pendapatan Lodji Besar.

Kuncar juga tak setengah-setengah mempelajari budaya Surabaya. Bahkan, dia mempelajari detail perbedaan font tulisan, gambar, dan cara penulisan sebuah kata sesuai era masing-masing. ”Pada 2010, saya mendapatkan kritik dari desainer Prancis karena belum paham jika setiap gambar maupun font memiliki ciri khas berbeda sesuai eranya,” terang suami Rr Sukma Dewi Damayanti itu.

Kuncar juga pernah diprotes penggemar Persebaya lantaran membuat desain logo Persebaya 1927. Padahal, Kuncar telah melakukan riset logo Persebaya pada masa penjajahan Belanda dengan menggandeng The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies (KITLV) Leiden.

Setelah brand Sawoong mulai dikenal masyarakat, pada 2011 Kuncar berekspansi ke bisnis konfeksi dengan menerima pesanan kaus, kemeja, maupun jaket. Dengan produksi ratarata 100 ribu pieces per bulan, bisnis yang dinamai Republik Kaos itu kini menjadi penopang utama pendapatan Lodji Besar.

”Agar bisa menjadi perusahaan konfeksi terbesar, setidaknya harus memiliki kapasitas produksi 100 ribu hingga 300 ribu pieces pakaian per bulan. Minimal dalam jangka 5 tahun ke depan sudah harus terwujud,” ungkap laki-laki yang merayakan ulang tahunnya setiap tanggal 1 Maret tersebut.

”Agar bisa menjadi perusahaan konfeksi terbesar, setidaknya harus memiliki kapasitas produksi 100 ribu hingga 300 ribu pieces pakaian per bulan. Minimal dalam jangka 5 tahun ke depan sudah harus terwujud,” ungkap laki-laki yang merayakan ulang tahunnya setiap tanggal 1 Maret tersebut.

Untuk mempercepat capaian target, Kuncar getol bekerja sama dengan pihak ketiga. Dia menyebutnya inti dan plasma. ”Selain agar perkembangannya cepat, model sharing itu tidak memperkaya diri sendiri, tetapi semua pihak yang terlibat,” terangnya.


STRATEGI BISNIS  KAOS SAWOONG


gambar : Facebook Sawoong

Untuk sukses seperti Kaos Sawoong, kamu harus fokus dengan 5 stratgei dibawah ini : 
  1. Modal Rp 5 juta untuk membeli 100 kaus dan ongkos sablon.
  2. Andalkan pameran untuk berjualan sembari memancing order besar.
  3. Menggunakan model inti dan plasma untuk memacu pertumbuhan.
  4. Fokus offline karena membidik segmen menengah ke atas.
  5. Riset materi kaus dilakukan secara serius.

Sumber :  Jawa Pos, 24 Jul 2017

Kurcarsono Prasetyo
gambar : facebook sawoong

40 TAHUN YANG MENGAGUMKAN


Saya selalu mengatakan jadikan setiap usiamu mengasyikkan. Nikmati setiap tahapannya. Karena dengan demikian kita bisa memaknai hidup yang singkat ini.

Belajarlah yang benar hingga usia 20 tahun. Tidak perlu pintar-pintar, karena kalau semua pintar apa gunanya ranking di sekolah.

Usia 20 sampai 30 tahun carilah teman sebanyak-banyaknya, lulus kuliah bekerjalah ikut orang, biar kita tahu bagaimana sulitnya cari uang dan dibentak-bentak bos.

Usia 30 beranikan resign. Mulailah usaha sendiri, jatuh bangun nikmatilah, entah bagaimana caranya. Bangunlah kawan yang banyak dan pastikan hingga usia 40 tahun, wujud usaha kita dan jaringan perkawanan mendekati matang.

Usia 40 tahun mulailah mengembangkan usaha, jangan jadi konglomerat karena itu gak asyik. Saya lebih suka menyebutnya spirit bertumbuh dan berbagi.

Rangkul semua kawanmu, bertumbuhlah bersama mereka, bangunlah kesibukan baru bersamanya. Dengan berbagi, kita bisa bertumbuh bersama. Dengan bertumbuh, kita bisa berbagi ke sesama.

Usia 50 tahun, ketika semua kesibukan menemukan titik kesimbangan, mulailah mendelegasikan peran. Usia tentu tidak bisa menipu. Kemampuan fisik dan otak tentu mulai stagnan. Percayakanlah kepada anak muda yang lebih progresif.

Biarkan ide lahir dari mereka. Jangan ditolak, karena perubahan adalah milik pemuda. Kita cukup menjadi teman diskusi saja. Butuh waktu sepuluh tahun untuk masa transisi ini.

Usia 60 tahun saatnya kita pensiun, nikmati semua yang kita bangun. Jangan leyeh-leyeh di teras rumah. Tetaplah bersibuk ria untuk membunuh pikun.

Datanglah ke tempat kerja yang telah kita bangun selama ini. Seringlah sapa kawan-kawan kita yang sudah tumbuh bersama kita.


REFLEKSI SETELAH 40 TAHUN


Hari ini, timeline fb saya penuh ucapan ultah. Sedih tentu ada, karena kematian makin dekat. Tapi kali ini saya bangga. Sungguh bersyukur, 40 tahun, saya coba patuh dengan mimpi sendiri itu.

Saya bersyukur punya keluarga kecil yang asyik. Istri yang cantik dan sabarnya Naudzubillah. Kalau ada kalanya dia marah, itu karena suaminya saja yang kebangeten. kwkwkwkk...

Punya dua anak yang lucu, kami tinggal di rumah sendiri yang sederhana.

Saya memulai jualan kaos usia 30 tahun dengan merk Sawoong, setelah resign jadi wartawan. Usaha itu bertumbuh, 10 tahun terakhir. Lahir usaha baru bernama Republik Kaos. Terima pesanan karena sudah punya workshop dan showroom sendiri.

Saya juga bersyukur punya kawan banyak, mereka cerdas dan baik hati. Kami membangun banyak kesibukkan baru bersama mereka.

Penulisan, penerbitan, multimedia, dan sistem informasi, bikin hari-hari makin asyik. Kami bikin usaha baru bernama Ideanyar Media Solusi.

Kawan-kawan lainnya saya ajak mewujudkan ide membangun startup digital, bikinkan.com.

Mewujudkan platform digital yang berkutat dengan bahasa program dan angka-angka tentu bukan keahlian saya yang sejak SMP, guru Matematika-pun ikut saya benci. (ini imbas dari pelajarannya).

Baru baru ini saya rintis usaha kuliner. Itupun dengan teman. Kami punya kafe di depan rumah yang saya beli dua tahun lalu di Jl Makam Peneleh 46 Surabaya.

Tempatnya asyik, dan memang kali ini untuk asyik-asyikan. Membuat ruang orang bersilaturahmi niscaya rejeki akan mengalir ke kita.

Lodji Besar Koffie & Djamoe. Begitu saya menciptakan namanya.

Sekarang kawan saya semakin banyak karena dari satu orang dikenalkan dengan kawan baru dan bekerja bersama-sama. Mereka anak-anak 'gila' semua.


APAKAH SUDAH SUKSES?


Apakah sudah sukses? belum dooong. Sampeyan tidak akan saya ceritakan berapa banyak utang saya sekarang. Karena kalau toh pun saya sampaikan juga gak mungkin dibantu. hihihihi...

Beberapa usaha juga belum menghasilkan, tapi herannya kawan-kawan saya tetap yakin kalau ide ini kelak akan menghasilkan, sehingga siang malam terus bekerja. Bukankah itu yang dinamakan gila.

Tapi yakinlah, hasil tidak akan menghianati usaha.

Sebuah frasa populer bahasa Inggris menyebutkan Life Begins at Forty. Daaan benar-benar saya rasakan hari ini. Ahayyyy...

Hidup setelah 40 tahun. Apakah 40 tahun terakhir saya tidak hidup?, tentu tidak. Makanya saya menjawab frasa populer itu dengan judul kaos yang saya pakai hari ini. 40 years of Being Awesome. 40 Tahun yang mengagumkan.

Setelah ini, saya cukup memastikan sisa hidup saya harus lebih mengagumkan. Bersama keluarga kecilku yang bahagia dan kawan-kawan saya yang baik. Tidak perlu kaya berlebihan seperti Raja Salman, tidak juga harus menjadi terkenal yang dikejar-kejar fans.

Terimakasih kepada semuanya yang menjadi bagian dari hidup saya. Saya bangga dengan kalian. Semoga kita tetap diberi kesehatan, tetap diberi keluasan rejeki, dan tetap lucu.

Begitulah kura-kura. Sekian Terimakasih dan sampai jumpa.

sumber : facebook sawoong


Begitulah kisah dari kaos sawoong, jika kamu ingin belajar dari kisah bisnis kaos sawoong, maka ada beberapa pertanyaan yang harus kamu jawab.

  1. Apa rahasia sukses dari kaos sawoong?
  2. Apa yang bisa kamu contoh dan duplikasi untuk bisnis kamu?
  3. Apa kesulitan yang pernah dijalani oleh kaos sawoong
  4. Apakah kamu sudah siap dengan resiko akan terjadi disaat kamu menjalankan bisnis yang serupa dengan bisnis kaos sawoong?
  5. Quote apa yang yang mendasari perjuangan kaos sawoong supaya menjadi besar?
Selamat belajar :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar