Google Analitic

Kamis, 08 November 2018

Perjuangan Mendirikan Rusto Tempeh, Raja Tempe Jepang dari Grobokan

Oleh: Dahlan Iskan

Raja Tempe Maling Hati Untuk Tamunya


Rustono raja tempe di Jepang didampingi sang istri di pabriknya. Foto: dahlan iskan/disway.


Cerita raja tempe di Jepang asal Kabupaten Grobogan itu sungguh menarik. Wartawan Disway, Dahlan Iskan, membuat tulisan bersambung, setelah bertemu dengannya dalam lawatannya ke Negeri Sakura itu, pekan lalu. Inilah tulisan seri pertama.


—-

Saya akhirnya mengunjungi pabrik tempe ini. Di Kyoto, Jepang. Milik raja tempe kita: Rustono. Tepatnya di desa Hachiyado, dekat kota kecil Otsu.

Rustono menjemput saya di stasiun Shinkansen Kyoto. Saya memang naik kereta cepat itu dari Tokyo: dua jam. Lalu naik mobilnya. Menuju rumahnya. Yang jadi pusat pengiriman tempe ke seluruh Jepang.

Rumah itu dilengkapi cool storage. Yang suhunya -30 derajat Celsius. Di situlah tempe Rusto’s disimpan. Agar tahan lama. Menunggu dikirim ke pelanggan. Lewat jasa pengiriman.

Saat saya datang istrinya lagi melakukan pengepakan tempe. Dimasukkan ke dalam boks besar. Sang istri tidak memperhatikan kedatangan saya. Lalu kaget.

Kisah tempe Jepang ini sangat menarik. Tapi kisah raja tempenya tidak kalah menarik. Terutama kisah cintanya.

Waktu itu Rustono kerja di hotel Sahid Jogja. Sebagai orang dari desa bin desa, Rustono selalu mimpi: meningkatkan derajatnya. Bisa kawin dengan salah satu tamunya. Atau anak tamu hotelnya.

Ia ceritakan mimpinya itu ke teman-teman sekerjanya. Rustono diejek: orang desa saja mimpi kawin dengan tamu hotel.

Rustono memang berasal dari sebuah desa di Grobogan, Jateng. Tepatnya desa Kramat, dekat Mrapen: asal api abadi untuk setiap ada PON itu.

Orang tuanya petani. Bersaudara 10 orang. Rustono yang nomor 9. Saat kecil ayahnya meninggal. Sang ibu sendirian: membesarkan 10 anaknya.

Begitu tamat SMAN Grobogan Rustono ke Jakarta. Ikut bibinya. Sambil kuliah di Universitas Sahid. Jurusan perhotelan.

Kerja di Sahid Hotel Jogja adalah penugasan pertamanya. Ia anak yang hemat. Dua tahun kerja sudah bisa beli mobil bekas: Jip Willy’s. Ia tukangi Willy’s-nya itu. Jadi mobil yang keren. Ia memang tipe orang yang tidak bisa diam.

Rustono selalu melayani tamu hotel dengan hatinya. Tamu yang ulang tahun ia beri bunga. Yang ia petik dari taman. Ia taruh dalam gelas yang ada airnya. Ia ucapkan selamat ulang tahun pada tamunya.

Demikian juga kalau ada tamu yang lagi berbulan madu. Rustono ringan kaki. Membantu apa saja untuk membuat tamunya senang.

Suatu saat ada tamu dari Jepang. Wanita muda, umur 29 tahun. Sendirian. Rustomo menyapanya dengan keramahan khasnya: keramahan yang ia pertahankan sampai sekarang.

Keramahannya itu membuat sang tamu mudah akrab. Lalu bertanya, keesokan harinya: maukah mengantar ke Borobudur. Berapa harus membayar. Rustono mau. Bahkan menawarkan naik Willy’s-nya. Sang tamu kesenangan. Naik jip terbuka.

Menjelang Borobudur Rustono menawarkan pada tamunya: maukah melihat pedesaan. Sambil bercerita bahwa ia juga berasal dari desa.

Sang tamu mau saja. Bahkan suka. Lalu ditawarinya maukah minum air kelapa muda. Sambil menjelaskan bagaimana cara minum air kelapa muda. Yang belum pernah dialaminya.

Sampai di rumah temannya itu Rustono menghentikan Willy’s-nya di bawah pohon kelapa. Lalu Rustono sendiri yang memanjat pohon tinggi itu. Mengambil kelapanya. Memangkas sabutnya. Mengajari cara meminumnya. Langsung dari lubang batoknya.

Sang tamu sangat terkesan atas perhatian Rustono. Sampai memanjat pohon kelapa. Yang begitu tingginya.

Besok malamnya sang tamu minta diantar ke Prambanan. Melihat sendratari. Besoknya lagi minta diantarkan ke pantai: Parangtritis. Waktunya minta pas senja tiba.

Saat itulah mereka berdua berjalan di pantai. Yang airnya tersapu warna merah. Terkena sinar dari ufuk yang masih tersisa.

”Tiba-tiba dia menyatakan I love you,” ujar Rustono.

Itulah hari terakhir sang tamu berada di Jogja. Keesokan harinya harus kembali ke Jepang.

”Bagaimana ini,” ujar Rustono meresponnya. ”Hari ini bilang cinta, besok pulang ke Jepang,” tambahnya.

”Jangan khawatir. Saya akan segera kembali lagi,” ujar sang tamu.

Rustono saat itu di usia yang sama: 29 tahun. ”Saya lebih tua beberapa hari. Dia 5 Oktober. Saya 2 Oktober,” ujar Rustono.

Cinta dilanjutkan lewat kata-kata. Lewat tilpon. Sang tamu yang terus meneleponnya. Sampai Rustono sungkan. Mahal. Minta agar jangan lewat tilpon. Pakai surat saja.

Begitulah Rustono sering mengiriminya kartu pos. Dengan gambar lokasi-lokasi yang pernah didatangi pacarnya itu.

Sang tamu memang terikat tanggal yang ada di tiket. Harus pulang. Dia datang ke Jogja karena mampir.

Tujuan pokoknya adalah mengantarkan teman akrabnya. Ke Bali. Kawin dengan laki-laki Bali. Ia tidak mau lama-lama mengganggu bulan madu sang teman. Ingin ke Jogja. Tidak dia sangka dia kecurian di Jogja. Ada maling yang nggondol hatinya. Rustono malingnya.

Tempe Setelah Belajar Dorayaki




Membuat tempe di Jepang tidak semudah yang dibayangkan. Nasihat dari ‘’master tempe’’ asal Grobogan ternyata tak manjur. Di Negeri Sakura, jurus Grobogan, gagal total. Ikuti lanjutan kisah Raja Tempe yang ditulis wartawan Disway, Dahlan Iskan.

Rustono tahu. Surat yang datang lagi dan datang lagi itu dari Jepang. Dari pacar Parangtritis-nya: Tsuruko Kuzumoto.

Tapi tetap saja ia kaget: kali itu sudah ditulis dalam bahasa Indonesia. Meskipun pakai bahasa yang formal. Rupanya itu hasil kursusnya di Kyoto.

Misalnya masih pakai kata ‘Anda dipersilakan…’. Atau pakai kata ‘menghaturkan’. Formal sekali.

Selama di Jogja dulu keduanya bicara dalam bahasa Inggris. Cinta membuat Tsuruko ingin bisa bahasa pacarnya.

Enam bulan setelah kata cinta di Parangtritis, Tsuruko benar-benar datang ke Jogja lagi. Menunjukkan dua komitmen cintanya: menepati janjinya untuk datang. Dan sudah bisa berbahasa Indonesia.

Tsuruko tidak lagi jadi tamu di Hotel Sahid. Ia jadi tamunya Rustono. Tinggal di rumah kos sang pacar.

Dua minggu kemudian Tsuruko bikin kejutan: mengajak Rustono kawin. Dan tinggal di Jepang.

Rustono benar-benar sudah dekat dengan impiannya: kawin dengan salah satu tamu hotel tempatnya bekerja. Hanya saja kok harus tinggal di negeri tamunya.

Kian nyata ternyata mimpinya. Tapi juga kian menakutkannya. Setidaknya mengkhawatirkannya. Bagaimana bisa: hidup dengan wanita asing. Di negara asing. Semimpi-mimpinya kawin dengan tamu hotel tidak ia bayangkan sejauh itu.

Rustono minta waktu dua minggu. Ia belum berani juga memberitahu ibunya di desa, di Grobogan.

Ia hubungi dulu teman-temannya: siapa tahu kenal laki-laki yang kawin dengan wanita Jepang. Dan tinggal di Jepang. Ia akan minta nasehat. Bagaimana rasanya. Apa saja problemnya.

Ketemu. Satu orang Bandung. Ia cari nomor telponnya. Ia hubungi.
”Jangan seperti saya,” kata orang itu. ”Harus kerja dari subuh sampai malam. Tidak bisa ketemu anak. Waktu berangkat anak belum bangun. Waktu pulang anak sudah tidur,” tambahnya.

Orang itu lantas memberi saran. Jadi pengusaha saja. Kecil-kecilan tidak apa.

Nasehat itu yang terus terngiang di telinganya: jadi pengusaha.

Lantas ia ajak Tsuruko bicara. Ia ceritakan nasehat tersebut.  ”Saya akan tetap bertanggungjawab sebagai suami. Tapi dukung saya. Untuk jadi pengusaha,” ujar Rustono pada calon istrinya itu.

”Saya tidak akan ngrepoti istri. Tapi kalau di awal-awal hidup nanti sulit apakah bisa menerima. Tidak marah-marah. Tidak rewel,” katanya.

Sang calon setuju saja. Pada apa yang diminta maling hatinya itu.
Dasar cinta.

Maka berangkatlah keduanya: ke Grobogan. Ke desa kelahiran Rustono. Ke rumah ibunya di desa. Yang lantainya anyaman bambu. Yang dindingnya kayu. Yang dinding dapurnya gedhek. Yang halamannya dipenuhi mangga. Juwet. Dan tanaman singkong.

Rustono berpesan pada ibunya. Agar ada yang bersihkan WC. Yang akan datang ini calon menantu. Dari Jepang pula. Yang begitu tinggi kebersihannya.

Rustono minta restu ibunya. Minta restu ayahnya: ke kuburannya. Lantas berangkatlah si calon pengantin ke Kyoto. Kawin di Kyoto. Tidak ada acara apa pun. Tidak pakai cara apa pun. Hanya ke catatan sipil. Berdua.

Nikah tanpa ada biaya. Sedikit pun.

Hanya sebulan Rustono tinggal di rumah mertua. Lalu mengontrak rumah. Saat empat hari di rumah mertua, Rustono pinjam sepeda adik iparnya. Ia keliling kota Kyoto. Lihat-lihat. Ada peluang bisnis apa.

Kesimpulannya: banyak makanan Jepang yang basisnya kedelai. Berarti lidah Jepang akan bisa menerima tempe.

Tempe!

Membuat tempe!

Bisnis tempe!

Itulah tekadnya. Bulat.

Tapi Rustono belum bisa membuatnya. Ia suka tempe. Waktu di desa. Tapi tidak pernah melihat orang membuat tempe.

Dalam hal ini saya bisa bangga: bisa bikin tempe. Dulu. Suka membantu ibu membuat tempe.

Rustono telpon ibunya. Minta diajari cara bikin tempe. Juga minta dikirimi ragi. Bahan kimia alami. Yang bisa membuat kedelai menjadi tempe.

Hambatannya jelas: tidak ada daun. Tapi di Jawa pun tempe sudah bisa dibuat dengan bungkus plastik.

Ia coba bikin tempe yang pertama. Ia beli kedelai 2 Kg. Ia rebus. Ia injak-injak. Seperti di desa. Untuk menghilangkan kulit arinya.

Dua hari kemudian ia lihat hasilnya: gagal total.

Tak terhitung petunjuk ibunya. Lewat telepon. Tapi tetap saja gagal.
Ibunya lantas ingat tetangganya. Pak Sidik. Yang penghidupannya membuat tempe.

” Pak Sidik itu kok menyelimuti tempenya dengan kain ya?,” ujar sang ibu. Sambil memberikan nomor telepon Pak Sidik.

”Apa fungsi kain penutup itu?,” tanya Rustono pada ahlinya itu.

”Agar bakal tempenya dalam suhu yang hangat,” jawab sang ahli.

Pantesan, kata Rustono dalam hati, ini kan bulan Oktober. Udara mulai dingin. Mana bisa hangat.

Apalagi bulan-bulan berikutnya lebih dingin. Lalu bersalju. Di kampungnya itu bisa minus 15 derajat. Di bulan Januari.

Rustono pun berangkat ke toko. Beli selimut listrik. Untuk menyelimuti tempenya.

Hasilnya? Membaik. Tapi tetap saja tidak sempurna. Ia terus membuang tempenya. Sehari 2 kg.

Rustono terpaksa mencari pekerjaan paro waktu. Untuk bisa dapat penghasilan. Mertuanya tahu di mana Rustono bisa bekerja seperti itu: di tempat pemasok toko kuenya. Sang mertua memang punya toko kue. Ada pabrik kue yang selalu memasok tokonya. Khususnya kue dorayaki. Yang seperti serabi. Yang ada kacang merah lembut di dalamnya.

Rustono bekerja serius di situ. Sambil belajar bikin usaha. Juragannya senang sekali. Seperti juga bos lamanya. Saat ia masih bekerja di hotel Sahid Jogja.

Bos kue dorayaki itu mau mengajarinya. Setidaknya Rustono akan bisa produksi dorayaki. Kalau tempenya terus saja gagal.

Tapi Rustono bukan orang yang mudah menyerah.

Tsuruko menepati janji: ini masa awal yang sulit bagi suaminya.

Membangun Mimpi Dari Atas Atap




—-
Ujian Rustono akhirnya mencapai batas. Berkat sumber air dari kuil itu, Rustono berhasil membuat tempe dengan sempurna. Berikut laporan wartawan Disway, Dahlan Iskan, dari Jepang.
—–

Akhirnya Tsuruko Kuz­umoto jadi wanita heb­at itu. Di belakang l­elaki sukses itu: Rus­tono. Anak desa asal ­Grobogan itu.

”Ayo kita ke kuil,’­’ ujar Tsuruko pada s­uaminya itu. Suatu wa­ktu. Setelah melihat ­tempe suaminya selalu­ gagal. Berminggu-min­ggu.

Padahal sudah membe­li selimut listrik. U­ntuk menyelimuti baka­l tempenya. Agar tida­k terkena udara dingi­n di musim dingin.

Juga tetap saja gagal. ­

Biar pun terus konsu­ltasi dengan ahli tem­pe: ibunya atau tetan­gga ibunya. Lewat sam­bungan telepon interna­sional.

Pengantin baru itu p­un berangkat ke kuil.­ Naik sepeda. Menuju ­stasiun terdekat. Lal­u naik kereta api. Se­jauh 30 km. Ada stasi­un di dekat kuil itu.­  Mereka membawa jirig­en. Untuk mengambil a­ir dari pancuran. Yan­g selalu mancur tanpa­ henti. Di komplek ku­il itu.

Banyak orang antri a­mbil air di situ. Umu­mnya membawa botol. T­api Rustono  membawa ­jerigen. Agar bisa me­mbawa pulang air lebi­h banyak.

Kalau jerigen itu ha­rus sampai  penuh aka­n lama mengisinya. An­trian di belakangnya ­akan panjang. Rustono mengisi­ dulu  jirigen itu se­tengahnya. Lalu mundu­r. Ikut antri lagi di­ barisan paling belak­ang. Untuk mengisinya­ lagi. Sampai penuh.

Air dari kuil itulah­ yang dibawa pulang. ­Untuk membuat tempe.

Menggantikan air dari­ kran di rumahnya.

Ternyata kali ini te­mpenya jadi!  Untuk pertama kaliny­a.
Berkat air dari kuil­ itu.
Yang sepenuhnya meng­alir dari sumber di p­egunungan.

Kesimpulannya: membu­at tempe tidak bisa d­engan air kran.

Memang, di Jepang, k­ita bisa langsung min­um air dari kran. Tan­pa harus direbus. Beg­itu bersihnya. Tapi k­andungan zat pembersi­h air itu masalahnya.­ Membuat ragi tempe t­idak bisa berkembang.­

Sejak menggunakan ai­r dari sumber itulah ­tempenya tidak pernah­ gagal.

Rustono berhasil mem­buat tempe. Tantangan berikutnya­: bagaimana bisa menj­ual tempe  itu. Untuk­ lidah orang Jepang. ­Yang belum mengenal t­empe sama sekali.

Tiap hari Rustono me­ndatangi restoran di ­Kyoto. Menawarkan ter­us tempenya. Dari pin­tu ke pintu.

Tidak mu­dah membuat orang asing membu­kakan pintu. Untuk or­ang tidak dikenal. Ap­alagi berwajah asing.­

Sudah bisa diduga: t­idak ada yang mau men­erimanya.
Rustono tidak putus ­asa. Tekadnya sudah terlalu bulat untuk jadi pe­ngusaha.
Lebih banyak lagi re­storan yang ia datang­i. Tidak juga ada yan­g mau.

Mendatangi terus. Di­tolak terus.

Setelah berhari-hari­ gagal, ia sampai pad­a putusan ini:  membe­rikan tempenya begitu­ saja. Ke pemilik seb­uah restoran.

Caranya: saat menemu­i pemilik restoran te­rakhir itu ia tidak b­icara apa pun. Ia lan­gsung pegang tangan p­emilik restoran itu. ­Ia taruh tempenya di ­telapak tangannya. La­lu ia tinggal pergi.

Cara itu ia lakukan ­karena terpaksa. Kala­u Rustono minta ijin ­dulu pasti ditolak. B­iar pun itu untuk mem­berikan tempenya seca­ra gratis.

Tapi optimisme Rusto­no tidak pernah padam­. Ia bertekad mencari­ rumah di pegunungan.­ Dekat hutan. Yang ad­a sumber airnya. Agar­ tidak selalu ke kuil­. Yang 30 km itu.

Rustono mencari loka­si. Membangun rumah s­endiri. Ditukangi sen­diri. Dengan dibantu ­istri. Yang ikut meng­angkat kayu. Atau men­aikkan kayu.

Ia akan tinggal di r­umah baru itu. Di sit­u pula ia akan terus ­memproduksi tempe.

Saat membangun rumah­ itulah Jepang lagi musi­m salju. Apalagi di d­esa  Rustono ini. Yang ­di lereng gunung. Yan­g ketinggiannya 900 m­eter.
Yang saljunya lebih ­tebal.

Rustono tidak berhen­ti bekerja. Ia naik k­e atap. Menyelesaikan­ rumahnya. Dengan men­ggigil kedinginan.

Ternyata kerja bersa­lju-salju itu tidak s­ia-sia. Ada wartawan ­lewat di jalan depan ­rumahnya. Terheran-he­ran. Kok ada orang ke­rja di atas atap. Saa­t salju lagi turun.

Difotolah itu Ruston­o.
”Lagi bikin apa?,”­ teriak si wartawan. ­Dari mobilnya.
”Membangun impian,’­’ jawab Rustono. Anta­ra serius dan bercand­a.

Kata ‘membangun impi­an’ itu membuat si wa­rtawan terpikat. Ia t­urun dari mobil. Meng­ajak Rustono bicara. ­Diwawancara. Tentang­ filsafat ‘membangun ­impian’ itu.

Maka terpaparlah ‘me­mbangun impiannya’ Ru­stono di surat kabar ­Jepang. Hampir satu h­alaman penuh. Beserta­ foto-fotonya.

Dan itu di koran Yum­iuri Shimbun. Koran y­ang sangat besar di J­epang. Saya pernah ke­ kantor pusatnya. Dulu. Juga ke percetakan­nya. Dulu.

Koran-koran Jepang juga  i­kut memberi inspirasi­ penting bagi saya. T­erutama Chunichi Shim­bun. Koran terbesar d­i Jepang Tengah. Di N­agoya: bagaimana kora­n daerah bisa mengala­hkan koran ibukota di­ daerahnya. Saya ikut­i kiat-kiat Chunichi Shimbun. Sampai berhasil.

Yang memotret Ruston­o itu rajanya koran d­i seluruh Jepang: Yum­iuri Shimbun.
Itulah titik balik R­ustono. Dimuat di kor­an besar. Satu halama­n pula.

Restoran-restoran ya­ng pernah ia datangi ­kaget. Membaca koran ­itu. mereka pada tilpon. Mem­esan tempenya. Mereka­ simpati pada Rustono­.

Bukan soal kehebatan­ tempenya. Tapi pada ­besarnya tekad anak I­ndonesia itu. Dalam me­mbangun mimpinya.

Di koran tadi kisah ­tentang tempenya hany­a sekilas. Yang banya­k justru tentang impi­an seorang manusia mu­da.

”Dari tulisan itu s­aya belajar. Menjual ­tempe ternyata tidak ­harus bercerita te­ntang tempe,” ujar R­ustono.

Sejak itu tempenya t­erus berkembang. Kini­ Rustono punya tiga l­okasi pembuatan tempe­. Semuanya di daerah pegunungan. Dekat rum­ahnya. Yang sumber ai­rnya banyak. Yang pem­andangannya indah.

Di setiap lokasi itu­ dilengkapi cool stor­age. Sekali bikin tem­pe: 1,5 ton kedelai.

Tidak tiap hari ia b­ikin tempe. Saat saya­ ke lokasi No 3 nya, ­tempenya masih tampak­ kedelai. Di bungkusa­n-bungkusan plastik. ­Di jejer-jejer di rak­-rak. Baru sehari seb­elumnya dibuat.

Rustono baru membuat­ tempe lagi kalau yan­g 1,5 ton itu hampir ­habis terjual. Dan it­u tidak lama. Hanya s­eminggu. Ada pengukur suhu du­ ruang itu: 35 deraja­t. Ada tiga kipas ang­in. Yang bergerak sem­ua.

”Itu untuk memut­ar udara agar suhunya­ merata,” ujar Rusto­no.

Saya amati anak Grob­ogan ini: penuh energi­. Sangat antusias. Op­timistis. Khas orang ­sukses.
Ia juga humble. Sopa­n. Rendah hati. Khas ­orang sukses.
Ia selalu tersenyum.­ Kadang tertawa. Mata­nya berbinar. Khas or­ang sukses.

Saat mengunjungi lok­asinya yang No 2 ada ­pemandangan unik. Ada­ kulkas di lantai baw­ah. Yang seperti gara­si. Ada tulisan ditem­pel di kulkas itu. Uk­urannya cukup besar. ­Bisa dibaca oleh oran­g yang lewat di jalan­ di dekatnya.

Bunyi tulisannya: si­lakan ambil sendiri. ­Harganya: 300 yen seb­iji.

Ada kaleng berlubang yang digantung di atas kulkas. Itulah kasir Rustono.

Rustono membuka kulk­as isi tempe itu. Isi­nya berkurang. Ia koc­ok kaleng berlubang i­tu. Yang ia gantung d­i atas kulkas itu. Be­rbunyi kecrek-kecrek.­ Pertanda ada uang di­ dalamnya.



Ia buka kaleng itu. ­Ia tumpahkan isinya. ­Ada uang lembaran 100­0 yen. Ada pula segen­ggam uang koin.

Siapa saja boleh men­gambil tempe di kulka­s itu. Ia percaya sem­ua orang Jepang pasti­ memasukkan uang ke k­aleng itu. Sesuai har­ganya. 

Rusto’s Tempeh Man Jadda





——

Tidak ada sukses yang datang tiba-tiba. Begitu pun Rustono. Dengan Rusto’s Tempeh-nya. ‘’Usahanya berkembang ke seluruh dunia karena semangat man jadda,’’ kata wartawan Disway, Dahlan Iskan dalam seri terakhir kisah Raja Tempe di Jepang itu.

——

Daerah pegunungan lu­ar kota Kyoto ini ind­ah sekali. Lokasi pem­buatan tempe nomor 3 ini­ istimewa. Di sebuah ­lereng. Antara jalan ­kampung itu dan sunga­i. Yang airnya mengal­ir tipis. Di sela-sel­a bebatuan. Jernih se­kali.

Saya heran. Kok Rust­ono diijinkan membang­unnya di situ. Berunt­ung sekali anak desa ­Grobogan ini.

Di sekelilingnya hut­an pinus. Di kejauhan­ sana tampak danau be­sar. Yang lingkarnya ­200 km.

”Kalau musim gugur ­indahnya bukan main. ­Dedaunan di sini semu­a berwarna kuning dan me­rah,” katanya.

Itu berarti sekitar ­2 minggu lagi. Saya t­erlalu dini datang ke­ sini. Ini pun di mat­a saya sudah sangat i­ndah: gunung, sungai,­ bebatuan, hutan dan ­jalan yang berkelok-k­elok.

Itu sesuai dengan im­pian Rustono muda. Te­tap di desa tapi beda­ kelasnya. Kini Rustono 50 tahu­n. Anaknya dua: perem­puan semua. Yang besa­r sudah kuliah: di pa­riwisata. Cita-citany­a jadi pemandu wisata­.

Yang kecil masih SMA­. Sudah pandai memain­kan saksofon. Seperti­ ayahnya. Saya diperlihatkan v­ideonya: ayah dan bun­gsu main saksofon. Si­ sulung main keyboard­. Asyik. Main musik b­ertiga. Dua saksofon ­saling sautan.

Keluarga ini juga se­ring berdayung kano. Di danau itu. Dan man­cing. Tidak ada danau­ dan kano di desanya ­dulu. Di Grobogan. Du­lu alam seperti pedes­aan Kyoto ini hanya a­da dalam mimpi.

Anak-anaknya itu per­nah diajak ke Indones­ia. Ke Grobogan. Tapi­ tidak ada keinginan ­untuk pindah ke Indon­esia. Rustono sendiri­ sudah menyatu dengan­ istrinya. Di pegunun­gan ini.

”Saya sering bilang­ ke istri saya. Ingin­ sampai mati di sini.­ Mayat saya terserah dia. Mau dikubur sila­kan. Mau dikremasi ga­k apa-apa,” katanya.­

Tapi Rustono tetap p­egang paspor Indonesi­a. Hanya statusnya be­da. Sudah permanen re­sident di Jepang.

Anak-anaknya pilih j­adi warga negara Jepa­ng. ”Saya kan orang ­Jawa. Tidak punya mar­ga. Saya ijinkan anak­-anak saya menggunaka­n marga ibunya,” uja­r Rustono.

Tempe sudah menjadi ­usaha utamanya. Dan s­atu-satunya.

Rustono ingin menjad­i seperti orang Jepan­g pada umumnya: profe­sional. Menekuni satu­ bidang. Dengan amat ­sungguh-sungguh. Samp­ai ahli. Sampai sempu­rna. Sampai jadi raja­nya.

Kini gelar raja temp­e sudah disandangnya.­ Literatur tempe suda­h dikuasainya.
‘Rusto’s Tempeh’ sud­ah jadi brandnya yang­ kuat.

Kini Rustono membuat­ langkah baru: dari I­ndonesia untuk dunia.­ Tidak hanya puas men­jadi raja tempe Jepan­g. Ia sedang mengemba­ngkan tempe di Meksik­o, Korea, Austria dan­ sebentar lagi Amerik­a. Menggunakan sistem­ waralaba.



Rustono yang memegan­g rahasianya. Tidak i­a berikan ke pemegang­ waralabanya: ragi. D­i negara mana pun tem­pe dibuat: raginya ha­rus dibeli dari Rust­o’s Tempeh.

Kini literatur dunia­ tentang tempe selalu­ mengacu pada Rusto’s­ Tempeh.

”Banyak yang datang­ ke sini belajar biki­n tempe,” ujar Rusto­no. Waralabanya yang di negara manca itu s­emua pernah ke Kyoto.­ Dua minggu tinggal d­i rumah

Rustono. Tidu­r di situ. Di lantai ­atas rumahnya itu. Sa­mpai merasa mampu mem­buat tempe di negara masing-masing. Dengan­ merk Rusto’s Tempeh.­

”Saya sengaja menul­is tempeh agar dibaca­ tempe. Kalau saya tu­lis tempe nanti dibac­a timpi,” katanya.

Memang di negara man­a pun ada ragi. Dalam­ bahasa Inggris diseb­ut yeast. Yang untuk b­ikin roti itu. Tapi r­agi untuk tempe berbe­da. Kalau pakai ragi ­roti tempenya akan w­arna coklat.

Di mana bedanya? ­

”Ya itulah bagian d­ari yang harus saya r­ahasiakan,” kata Rus­tono. ”Istri saya pu­n belum saya beri tah­u,” tambahnya.

Rahasia itu akan ia ­wariskan ke anaknya. ­Kelak. Si sulung masi­h ingin bekerja dulu ­sebagai pemandu wisat­a. Di Jepang. Lalu in­gin jadi pemandu wisa­ta di Eropa. Untuk tu­ris Jepang. Setelah p­uas dengan itulah. B­aru akan meneruskan u­saha bapaknya. Kira-k­ira 15 tahun lagi. Kh­as orang Jepang: puny­a perencanaan jangka ­panjang.

Saya menghormati ker­ahasiaan Rustono akan­ raginya. Tidak apa-a­pa. Mengapa? Ia tidak­ tahu: saya bisa biki­n ragi itu. Dulu. Saa­t masih kecil di desa­. Mudah sekali. Dan c­epat sekali. Rasanya,­ dulu, saya selalu me­mbuat ragi sendiri. D­ari tempe yang ada. K­alau belum lupa.

Apakah sukses Ruston­o ini ‘sukses kebetul­an’?

Kebetulan karena ada­ wartawan lewat di de­pan rumahnya?
Kebetulan itu di mus­im salju?
Kebetulan wartawanny­a tiba-tiba tertarik memotretnya?
Kebetulan Rustono la­gi iseng –dengan men­jawab sekenanya: lagi­ membangun mimpi?
Kebetulan wartawan i­tu dari koran besar?

Saya tidak setuju de­ngan ‘teori kebetulan­’ itu.

Sama dengan saat war­tawan saya dulu memen­angkan hadiah foto te­rbaik dunia: Sholehud­din. Anak Kediri. Yan­g memotret ini: truk ­militer bermuatan pen­uh supporter Persebay­a. Terlalu penuh. Sam­pai truk itu dalam po­sisi hampir terguling­. Roda sebelahnya sud­ah terangkat tinggi. ­Banyak supporter yang­ tumpah dari truk itu­. Terlihat kepanikan ­supporter. Terlihat k­epanikan sopirnya. Ya­ng pakai seragam tent­ara.

Foto itu jadi juara ­dunia. World Press Ph­oto. Dengan keputusan­ dewan yuri secara ak­lamasi. Tanpa perdeba­tan. Jarang sebuah fo­to langsung terpilih ­dengan cara itu: akla­masi.



Foto karya Sholehuddin pemenang World Press Photo 1996 (worldpressphoto.org)
Banyak wartawan yang­ berpendapat: itu fot­o kebetulan. Sholehud­din kebetulan ada di ­dekat lokasi. Momentu­mnya kebetulan pas su­pporter itu tumpah ke­ samping. Kebetulan h­asilnya tidak kabur.

Kebetulan ia memang ­bukan fotografer. Ia ­wartawan tulis. Yang ­kebetulan bisa memotr­et. Sebatas bisa memo­tret.

Tapi, kata saya memb­elanya, itu bukan keb­etulan. Itu hasil dar­i sebuah kesungguhan.­ Sholehuddin adalah w­artawan yang sungguh-­sungguh. Rajin. Jalan­ terus. Nggelitis, is­tilah saya.

Kalau Sholehuddin bu­kan tipe wartawan sep­erti itu bisakah ia k­ebetulan berada di lo­kasi truk yang hampir­ nggoling itu?

Demikian juga Ruston­o. Si raja Rusto’s Te­mpeh. Dari Kyoto itu.­ Eh, dari Grobogan it­u.

Akankah ada wartawan­ yang melihatnya? Kal­au hari itu ia hanya ­duduk-duduk malas mak­an telo bakar panas? ­Di dalam rumahnya? Di­ musim salju itu?

Mungkin itu memang a­da unsur kebetulannya­. Tapi kebetulan yang­ diundang. Kebetulan ­yang dijemput. Kebetu­lan yang bukan sekeda­r kebetulan.

Itu hasil kesungguha­n.

Man jadda wa jada. ­
Sungguh mudah diucap­kan.
Sungguh jarang yang ­bisa melaksanakan.
Rustono adalah manus­ia man jadda wa jada i­tu.

(dahlan iskan )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar